Maya tak pernah menyangka, kata-kata Bram tentang sisa hidup yang tinggal sedikit benar-benar menjadi kenyataan yang kejam. Bagaimana tidak? Hampir sebulan penuh, ia telah menjebak pria itu dalam neraka dunia yang dia ciptakan sendiri. Bram hidup dalam penyiksaan tanpa ampun; makan hanya satu kali sehari, luka-lukanya dibiarkan menganga, diobati seadanya, seolah nyawanya hanyalah sebuah mainan yang siap putus kapan saja. Namun, Maya tak pernah rela melepas suaminya itu begitu saja. Ia ingin Bram tetap hidup, terperangkap dalam penderitaan yang mencekik, meringkuk dalam dinginnya penjara yang menjadi kutukan abadi bagi lelaki tersebut. Itu adalah bentuk balas dendamnya. Baginya, siksaan itu jauh lebih kejam daripada kematian. Ketika Bram akhirnya meregang nyawa dengan tragis, tubuh pria it

