Beberapa orang langsung saling berpandangan. Ada yang kaget. Ada yang tegang. Namun tidak ada yang berbicara. Arvin menarik napas pelan. “Tapi itu juga berarti satu hal.” Ia menatap mereka satu per satu. “Kita sudah sangat dekat.” Salah satu analis mengangkat tangan sedikit. “Pak… kalau ini benar, berarti dia bukan lawan biasa.” Arvin mengangguk. “Betul.” “Dia punya jaringan. Uang. Dan keberanian untuk bergerak sejauh ini.” Arvin tersenyum tipis. “Tapi kita punya kebenaran.” Kalimat itu sederhana. Namun cukup untuk mengembalikan fokus ruangan. Arvin berjalan perlahan mengitari meja. Langkahnya tenang. Terukur. “Kita tidak akan bergerak sembarangan,” lanjutnya. “Kita kumpulkan semuanya. Bukti. Alur uang. Komunikasi. Semua yang bisa mengikat dia… tanpa celah.” Ia berhent

