Rumah Julian yang biasanya ramai oleh suara tawa kecil Jasmine kini terasa berbeda. Terlalu sunyi. Terlalu kosong. Lampu-lampu ruang keluarga tetap menyala hangat, mainan Jasmine masih berserakan di karpet seperti biasa, tetapi suasana rumah tidak lagi sama sejak Ryujin dibawa ke rumah sakit. Di tengah ruang keluarga itu, Jasmine berdiri dengan wajah merah karena menangis. “Mama… Mama…” Tangisnya tidak berhenti sejak beberapa waktu lalu. Air matanya terus mengalir, tangannya memegang boneka Barbie yang biasanya selalu membuatnya tenang. Namun hari ini boneka itu tidak membantu. Baby sitter mereka, Sari, sudah mencoba menenangkan Jasmine sejak setengah jam lalu. “Sini sama Tante dulu, ya?” katanya lembut sambil berlutut di depan Jasmine. Jasmine menggeleng keras. “Tidak mau!” Air m

