Lampu di ruang rawat inap menyala lembut. Tidak seterang ruang UGD tadi, tetapi cukup untuk membuat ruangan terasa hangat dan tenang. Bau antiseptik masih terasa samar, bercampur dengan aroma bhunga dari vas kecil di meja samping tempat tidur yang salah satu perawat letakkan beberapa menit sebelumnya. Ryujin terbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Kakinya yang terluka dibalut perban tebal. Mesin monitor kecil di sampingnya berbunyi pelan, menampilkan detak jantung yang stabil. Wajahnya masih pucat, tubuhnya masih lemah karena kehilangan darah dan efek obat, tetapi kondisinya jauh lebih baik dibanding beberapa jam sebelumnya. Peluru itu sudah dikeluarkan. Operasi kecil berjalan lancar. Dan yang paling penting— bayi di dalam kandungannya tetap aman. Ryujin membuka matanya perlahan

