Di sebuah bangunan tua yang tampak seperti kantor logistik biasa di pinggir kota, Roberto berdiri di dekat jendela besar yang lampunya sengaja dimatikan. Dari tempat itu, ia tidak bisa melihat langsung rumah Julian, tetapi di atas meja di depannya ada beberapa layar monitor kecil. Kamera jarak jauh, lensa tele, dan rekaman pengawasan dari berbagai titik. Salah satu layar memperlihatkan gerbang rumbah Julian. Pagar tinggi. Mobil penjaga. Lampu perimeter yang terang. Roberto menatap layar itu tanpa berkedip. Tangannya memegang gelas minuman yang sudah lama tidak disentuh. “Dia benar-benar membuat benteng,” gumamnya pelan. Salah satu anak buahnya berdiri tidak jauh darinya. “Pengamanan rumahnya berlapis, Tuan. Orang-orangnya juga terus berganti shift.” Roberto tersenyum tipis. “Say

