Pagi itu rumah terasa lebih hidup dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui jendela besar ruang keluarga, memantul di lantai marmer yang bersih. Aroma sarapan masih sedikit tercium dari dapur, dan suara tawa kecil Jasmine menggema lembut di seluruh ruangan. Julian sedang duduk di lantai beralaskan karpet tebal, tepat di depan Jasmine. Kemejanya digulung sampai siku, rambutnya masih sedikit lembapb setelah mandi pagi, dan wajahnya terlihat jauh lebih santai daripada biasanya. Di tangannya ada boneka Barbie yang tadi malam sempat diperebutkan Jasmine. “Putri ini harus pergi ke kastil,” kata Julian dengan suara dramatis. Jasmine tertawa keras. “Tidak! Dia mau main!” Julian pura-pura berpikir keras. “Oh begitu? Kalau begitu kita buat taman untuknya.” Ia mengambil beberapa balok plas

