Julian 198

867 Kata

Ruang kerja Julian malam itu terasa berbeda. Bukan karena lampunya, bukan karena layar monitor yang menampilkan peta jaringan distribusi lintas negara. Tapi karena tatapan Julian. Dingin. Stabil. Tanpa emosi. Anak buah kepercayaannya, Arman, berdiri di seberang meja dengan postur tegap. Ia tahu ketika Julian memanggilnya secara pribadi seperti ini, artinya bukan sekadar urusan biasa. “Gudang utama Roberto di Asia,” kata Julian pelan, menunjuk titik merah di layar besar. “Yang di pelabuhan timur.” Arman mengangguk. “Ya, Tuan. Itu pusat distribusi terbesarnya. Dari situ barang masuk, lalu disebar.” Julian menatap titik itu lama. “Dia pikir dia bisa berdiri di depan rumahku dan tetap menjalankan bisnisnya tanpa gangguan.” Nada suaranya rendah. Tidak marah. Justru itu yang membuatnya te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN