Siang itu langit terasa berat, seperti menunggu sesuatu yang akan pecah. Ryujin baru saja selesai menidurkan Jasmine ketika bel rumah berbunyi. Bubkan sekali. Tapi berkali-kali. Panjang. Mendesak. Ia sudah tahu siapa itu bahkan sebelum membuka pintu. Clara berdiri di depan rumahnya lagi. Wajahnya pucat, rambutnya terurai tanpa ditata rapi seperti biasanya. Tangannya memegang tas dengan cengkeraman kuat, seolah takut sesuatu akan direnggut darinya. “Kita harus bicara,” kata Clara tanpa salam. Ryujin tidak langsung menjawab. Ia berdiri tegak di ambang pintu, satu tangan menopang perutnya yang semakin membesar. Tatapannya dingin. Tidak lagi sekadar waspada. Kini penuh kejengahan. “Kamu tidak pernah belajar ya,” ucap Ryujin pelan. Clara menarik napas dalam. “Aku hamil. Dan itu anak Juli

