Siang itu rumah terasa terlalu sunyi bagi Ryujin. Bukan sunbyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang membuat d**a terasa sempit. Ia berdiri di ruang tengah dengan kedua tangan bertumpu di pinggang, memandang keluar jendela besar yang menghadap taman depan rumah. Matahari cerah, langit biru bersih, angin terlihat lembut menggerakkan dedaunan pohon. Semuanya terlihat indah. Dan semuanya terasa jauh. Ryujin menghela napas kasar. “Aku bosan…” Keluhan itu keluar begitu saja. Sudah beberapa hari ia hampir tidak keluar rumah. Semua kebutuhan datang ke rumah. Makanan dikirim. Belanja datang lewat orang lain. Bahkan Luna yang biasanya menemuinya di kafe kini datang langsung ke rumah. Awalnya Ryujin mencoba bersabar. Tapi hari ini kesabarannya benar-benar habis. Ia berjalan mondar-mandir d

