Hari-hari berlalu dengan perlahan, membawa perubahan yang begitu terasa di dalam rumah itu. Luka di paha Ryujin yang dulu membuatnya meringis setiap langkah kini hampir tidak lagi terasa. Bekasnya masih ada, samar namun jelas, sebagai pengingat akan kejadian yang tidak akan pernah mereka lupakan. Namun kini— Ryujin sudah bisa berjalan. Bukan lagi langkah tertatih. Bukan lagi dengan bantuan. Langkahnya kembali normal. Hanya saja— ada hal lain yang mulai terasa semakin berat. Pagi itu, sinar matahari masuk ke dalam kamar dengan lembut. Ryujin berdiri di depan cermin besar, mengenakan dress longgar yang mengikuti bentuk tubuhnya. Tangannya otomatis mengusap perutnya. Perut itu sudah sangat besar sekarang. Tujuh bulan. Ia menarik napas pelan. “Berat sekali…” Ia mencoba melangkah.

