Malam itu berjalan tenang seperti biasanya. Udara di dalam kamar terasa hangat, lampu redup menyinari ruangan dengan lembut. Julian duduk di kursi dekat ranjang sambil membaca sesuatu di tablet, sementara Ryujin berbaring setengah miring dengan satu tangan mengusap perutnya yang kini sudah sangat besar. Tujuh bulan. Setiap hari terasa semakin berat. Namun malam ini— ada sesuatu yang berbeda. Ryujin membuka matanya perlahan. Lalu menatap langit-langit. Lalu menghela napas. “Julian…” Nada suaranya pelan. Julian langsung menoleh. “Iya?” Ryujin tidak langsung menjawab. Ia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting. Julian mengangkat alis. “Kamu kenapa?” Ryujin akhirnya menoleh. “Aku ingin sesuatu.” Julian menahan senyum kecil. “Lagi?” Ryujin mengangguk p

