Mobil berhenti mendadak di depan pintu UGD rumah sakit swasta yang biasa menangani keluarga Julian. Begitu pintu mobil terbuka, dua perawat yang sudah dipanggil sebelumnya bersama beberapa dokter jaga langsung berlari keluar dengan brankar. “Cepat! Luka tembak!” teriak salah satu pengawal. Julian masih memegang tubuh Ryujin yang setengah bersandar di dadanya. Dressnya sudah basah oleh darah di bagian paha. Wajah Ryujin pucat, napasnya pendek-pendek. “Julian… sakit…” rintihnya pelan. “Sebentar. Kita sudah sampai,” kata Julian dengan suara yang berusaha stabil, meski tangannya masih menekan luka itu agar darah tidak mengalir lebih banyak. Dokter mendekat cepat. “Letakkan di brankar.” Julian membantu memindahkan Ryujin dengan hati-hati. Begituu tubuhnya diletakkan di brankar, perawat la

