Julian 212

705 Kata

Pagi di rumah itu terasa hangat dan tenang. Cahaya matahari yang lembut masuk melalui jendela ruang makan, menyinari meja besar tempat sarapan sudah disiapkan. Aroma sup hangat dan roti panggang memenuhi udara, bercampur dengan suara kecil sendok yang sesekali beradu dengan piring. Ryujin duduk di kursi makan dengan kaki yang masih dilburuskan sedikit agar tidak terlalu menekan luka di pahanya. Julian duduk di sampingnya, sesekali memperhatikan apakah Ryujin terlihat kesakitan ketika bergerak. Di seberang meja, Jasmine duduk di kursi kecilnya. Namun kali ini ia tidak makan. Ia sedang sibuk memperhatikan sesuatu di piringnya dengan ekspresi sangat serius. Ryujin memperhatikan putrinya. “Kamu tidak makan?” tanyanya. Jasmine tidak menjawab. Ia mengambil sesuatu dari piring kecil di de

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN