Malam sudah turun sepenuhnya di rumah besar itu. Lampu kamar utama menyala lembut, memberikan cahaya hangat yang menenangkan. Tirai jendela tertutup rapat, menyisakan suasana tenang yang berbeda jauh dari hiruk-pikuk hari-hari sebelumnya. Setelah beberapa hari yang penuh ketegangan, rumah itu akhirnya terasa damai lagi. Ryujin baru saja bangun dari tempat tidur. Ia mencoba bergerak perlahan, namun tetap saja tubuhnya terasa berat. Luka di pahanya masih belum sepenuhnya pulih, dan kehamilan yabng semakin terlihat membuat setiap langkah terasa lebih sulit dari biasanya. Ia memegang sisi ranjang sebentar sebelum berdiri sepenuhnya. “Aduh…” Ryujin meringis pelan. Rasa perih menjalar dari pahanya ketika ia mulai berjalan menuju kamar mandi. Tekanan dari perutnya yang membesar membuat luka

