“Mas Al?” Dinda berbelok menghampiri Altaf. Tidak jadi berjalan menuju pintu parkiran basement. “Ngapain ke sini?” Altaf mengalihkan wajah dari ponsel. Tersenyum saat menatap Dinda dan segera bangkit dari kursi lobi. “Mau ketemu mas Raksa. Tadi sudah nelpon” “Ooh.” Dinda manggut-manggut. Begitu ia menyadari bahwa Raksa adalah kakak laki-laki Ranu, ia pun menunjuk ke arah pintu. “Kalau gitu, aku duluan. Bang Raksa tadi masih ada meeting tim.” “Mau pulang?” “Memangnya mau ke mana lagi?” ujar Dinda sambil mengendik singkat. “Kalau kelamaan di sini, entar dikasih kerjaan sama yang lain. Jadi, mending pulang karena tugasku juga sudah selesai.” “Naik motor?” Altaf buru-buru bertanya sebelum Dinda melangkah pergi. “Maunya, sih, naik mobil, Mas. Tapi apa daya, uang di rekening baru kekumpul

