“Baby C?” Altaf mengerut dahi ketika melihat nama yang tercantum di boks bayi. “Namanya Baby C?” tanyanya memastikan karena tidak percaya. “Namanya belum ada,” jawab Bias, tetapi segera meralat, “sebenarnya ada, tapi mamanya masih bingung mau pilih yang mana. Padahal gampang, tinggal tulis aja Cibi, apa susahnya? Biasa juga manggilnya begitu. Cibi Naratama Manggala. Dah beres.” Cinta menggeleng lemah. Merasa tidak memiliki tenaga jika harus berdebat dengan Bias. Tunggu saja nanti, jika kondisinya sudah benar-benar pulih maka ia akan melampiaskan semua kekesalannya pada sang suami. “Bawa apa kamu, Mas?” tanya Cinta malas menanggapi Bias. “Bawa roti, s**u–” “Susunya cokelat?” putus Cinta cepat. “Iya.” “Mana keluarin, aku minta.” Altaf segera mengambil paper bag yang telah diletakkan

