Setelah berpisah dengan Felix, senyum Dinda benar-benar tidak bisa ditahan. Terus saja mengembang, sampai-sampai ia harus melipat bibirnya rapat-rapat agar orang-orang tidak menganggapnya gila karena tersenyum sendiri di sepanjang jalan. Namun, sepertinya percuma saja. Setiap kali Dinda teringat cara Felix menatapnya dan obrolan receh mereka yang selalu menimbulkan tawa, senyum itu kembali lolos begitu saja. Jangan-jangan, Dinda memang sudah gila. “Abang!” Kedua mata Dinda melebar seketika, saat melihat Raksa tahu-tahu muncul tepat di hadapannya. Ia sedang berdiri di depan lift, menunggu pintunya terbuka. “Ngagetin!” “Kamu ada hubungan dengan pak Felix?” tanya Raksa tanpa basa-basi dan tegas. “Aku lihat jelas waktu kamu megang tangannya.” Dinda baru saja ingin menjawab dengan mening

