Bab 32. Cinta Dan Air Mata

1703 Kata

Suara denting sendok yang beradu dengan piring plastik menjadi musik paling merdu yang pernah Vanya dengar. Di atas meja kayu yang beralaskan taplak motif bunga yang sudah pudar, tersaji sayur asem bening, sambal terasi yang aromanya menggugah selera, dan ikan asin yang digoreng garing. Vanya menyuap nasi hangatnya pelan. Di sampingnya, Bumi makan dengan lahap, sesekali menyisihkan bagian ikan yang paling renyah ke piring Vanya tanpa sepatah kata pun. "Mas Bumi, nanti ajarkan Fajar soal soal latihan ini ya? Mas kan dulu jago matematika," celetuk Fajar, mencoba memecah kekakuan setelah kejadian pintu terbuka tadi. Wajahnya masih agak malu, tapi binar bangganya pada sang kakak tak bisa sembunyi. Gelia, si anak tengah yang pendiam, tiba-tiba menyodorkan buku gambarnya ke arah Vanya. "Kak V

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN