Aku... terdiam. “Belum sampai Mama Papa ngambil keputusan, Zeze dinyatakan mati otak. Dan mungkin, di situ beliau berdua kalut sampai akhirnya menyetujui transplantasi jantung Zeze ke gue.” Titik pandangku spontan berpindah ke dadaa beliau. “Operasinya di mana, Dok?” tanyaku kemudian. “Manhattan.” Aku mengangguk pelan. “Dulu gue sempat… ngerasa bersalah.” Beliau mengatakannya dengan suara bergetar. Bahkan kini kedua matanya memerah. Kami diam sejenak. “Kenapa gue yang hidup?” lanjutnya. “Kenapa bukan Zeze?” Dua kalimat itu... menamparku keras. “Setiap detak… kayak bukan punya gue.” Tanganku mengepal. “Dan lo tau bagian paling nyebelin?” Aku tak mampu menjawab pertanyaan itu. “Gue jadi benci dipandang orang. Rasanya kayak mereka teriak ‘kok kamu tega sih ngambil jantung adikmu

