⚠️ Pisah Ranjang Membuat Alvaro Frustrasi ⚠️

1350 Kata

Interior kamar utama di mansion De Luca terasa sunyi, hanya deru pelan dari AC yang terdengar mengisi ruang. Cahaya lampu temaram memantulkan kilau lembut di dinding marmer putih. Arielle berdiri di depan cermin, melepaskan antingnya satu per satu. Namun matanya tidak benar-benar menatap bayangannya, pikirannya jauh dari refleksi yang terlihat. Pintu kamar terbuka pelan. Alvaro masuk tanpa suara. Jas hitamnya sudah terlepas, kemeja putihnya tergulung di lengan. Tangannya masih menyeka sisa lipstik dari sapu tangan yang kini sudah dibuangnya entah ke mana. Wajahnya tenang, tapi jelas ada kekhawatiran dalam sorot matanya. "Arielle," ucapnya lembut. Arielle tetap diam. Jemarinya berhenti di anting terakhir. Ia menatap bayangannya, lalu berbalik perlahan. Sorot matanya tajam namun jernih.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN