Deru mobil sport hitam milik Alvaro menderu membelah jalanan malam yang mulai lengang. Angin menusuk masuk melalui jendela yang terbuka separuh. Jemari Alvaro menggenggam kemudi begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Matanya tajam, dingin, penuh bara yang tak sempat padam. Di tempat duduk sebelah, jasnya terlipat rapi. Wajahnya masih menyimpan sisa amarah yang belum sempat ia muntahkan sepenuhnya. Ia seperti bom waktu. Dan markas timur akan menjadi medan pelampiasan. Begitu mobil berhenti di pelataran markas, seluruh anggota yang berjaga langsung menegakkan tubuh. Pintu terbuka, dan suara langkah Alvaro menggema nyaring, membuat semua kepala tertunduk dalam diam. “Mana laporan pekan ini?” suara Alvaro terdengar berat. Datar, namun menakutkan. Matteo yang sudah lebih dulu tiba dari si

