Arielle mengusap lembut rambut Leon, kemudian mengecup pipinya sebelum membiarkan bocah itu kembali menatap adiknya yang masih tidur. Ia tahu, tidak semua anak seusia Leon mampu menunjukkan kepedulian sedalam itu. Leon mungkin jenius, mungkin cerewet dan terkadang menyebalkan, tetapi hatinya selalu peka. Arielle berdiri pelan, membiarkan Leon bersama Michele, lalu menuju dapur. Ia menyeduh teh chamomile dan mempersiapkan secangkir kopi hitam kesukaan suaminya. Hari itu terlalu panjang, dan ia butuh sedikit waktu untuk menenangkan napas. Tak lama, Alvaro muncul dari ruang kerjanya, membuka kancing teratas kemeja sambil menghela napas. “Kau tidak tidur siang?” tanya Arielle lembut. Alvaro menghampiri dan menerima cangkir kopi yang ditawarkan istrinya. Ia menatap wajah Arielle sejenak sebe

