⚠️ Leon, Kakak Yang Jenius ⚠️

1309 Kata

Pagi itu, langit kota masih kelabu ketika Matteo melangkah masuk ke markas utama. Pintu besi yang biasa ia lewati setiap hari seolah menyambutnya kembali dengan aroma khas logam dan tanah. Semua orang di dalam markas tampak canggung, seperti sekelompok serigala yang kehilangan alfanya. Namun, saat suara langkah Matteo terdengar di lorong utama, seluruh anggota langsung berdiri. Beberapa wajah yang pucat karena kelelahan kini menunjukkan secercah harapan. Mereka tidak menyambut dengan sorak-sorai, tapi dengan sorot mata yang bersinar dan napas lega yang dalam. Salah satu anggota mendekat dan memberi laporan. Ia terlihat kikuk, tetapi nada bicaranya lebih hidup. “Terima kasih telah kembali, Tuan Matteo,” ucapnya lirih. Matteo hanya mengangguk pelan. “Kita mulai dari laporan logistik. Kem

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN