Siang merambat pelan ke seluruh sudut mansion. Di ruang keluarga, Alvaro berdiri tegap dengan Michele terlelap di lengannya. Jemari mungil itu mencengkeram telunjuknya, membuat garis keras di wajah sang ayah melunak. “Tenang, putri kecil,” ujarnya lirih. “Kau aman.” Di seberang, Arielle berlutut merapikan seragam Leon. Ia menguji kerapian kemeja, menyetel letak dasi, lalu menepuk bahu putranya dengan bangga. “Berdiri tegak,” ucapnya lembut. Leon mengangkat dagu. “Seperti ini, Mama?” “Persis begitu,” sahut Arielle, senyum menari di sudut bibirnya. Leon menoleh pada Alvaro. “Bagaimana, Papa? Terlalu pendek atau terlalu tampan?” Alvaro meneliti sebentar, bibirnya terangkat tipis. “Kau berisik, tetapi rapi.” “Pujianku yang terbaik hari ini,” gumam Leon sambil menyeringai kecil. Ariell

