Uap panas mengaburkan kaca kamar mandi. Arielle berdiri di bawah shower, tubuhnya basah licin oleh sabun dan peluh. Lekuknya memerah, bekas cengkeraman dan gigitan Alvaro tersebar di sepanjang kulit putihnya. Tapi di antara pahanya, masih terasa denyut yang belum padam. Ia memejamkan mata, menyentuh perut bawahnya sendiri, lalu turun pelan ke celah yang masih lembut dan basah. Tubuhnya bergidik. Tiba-tiba pintu kaca terbuka perlahan. Ia tak perlu menoleh. Kehadiran Alvaro bisa ia rasakan dari napasnya, dari auranya yang selalu mengancam dan memabukkan. “Kau belum selesai membersihkannya, Sayang?” suara Alvaro rendah, dalam, dan penuh ancaman. Arielle membuka mata, menoleh, dan mendapati Alvaro sudah berdiri telanjang di ambang shower. Miliknya yang keras menegang liar, basah di ujungn

