Lorong bersih itu seperti memantulkan setiap langkah yang mereka ambil. Alvaro berjalan di sisi ranjang dorong, memegang tangan Arielle tanpa jeda. Monitor detak jantung memetakan irama kecil yang teratur. Perawat menuntun dengan sigap, membuka pintu ruang bersalin, lalu memberi tempat bagi keluarga yang menunggu. “Aku di sini,” ucap Alvaro pelan. “Tatap aku jika sakitmu datang.” Arielle mengangguk. Nafasnya sudah ia atur sesuai ajaran bidan. Saat gelombang pertama menghantam lebih kuat, ia meremas jemari Alvaro dengan tenaga yang membuat urat di punggung tangan pria itu menegang. Alvaro tidak mengeluh. Ia justru menunduk, mencium pelipis istrinya dengan singkat, lalu kembali menatap mata yang ia cintai. “Bagus, Bu Arielle,” kata bidan. “Tarik napas dalam, hembus perlahan. Kita ikuti ir

