Sore itu cahaya lembut menembus tirai tipis ruang rawat. Dokter memeriksa Arielle sekali lagi, telapak tangan yang hangat memastikan nadi, tekanan darah, dan rahim yang mulai kembali mengeras. Ia tersenyum kecil, lalu menutup map. “Ibu dan bayi stabil. Boleh pulang hari ini. Jaga istirahat, perbanyak cairan, dan jangan ragu menghubungi kami jika ada perdarahan berlebihan atau demam.” Perawat datang membawa lembar pulang, termometer kecil, dan salinan jadwal kontrol. Ia memberi instruksi singkat tentang perawatan luka, cara menyendawakan bayi, tanda kuning pada kulit, serta posisi menyusui yang aman. Arielle mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk. Alvaro berdiri di sampingnya, tak bergerak sedikit pun, seolah segala penjelasan itu harus melewati dirinya sebelum menyentuh dunia.

