Arsya sedang duduk santai di sofa apartemennya sambil menyandarkan punggung. Laptop terbuka di meja, tapi tidak benar - benar ia perhatikan. Fokusnya ada di layar ponsel yang menampilkan wajah Dhevi. Video call mereka sudah berlangsung hampir dua puluh menit. Dhevi terlihat duduk di teras belakang rumah. Rambutnya dikuncir seadanya, wajahnya segar, dan suasana di sekelilingnya tampak hangat. Popa duduk tidak jauh darinya, memegang cangkir teh hangat, sesekali melirik ke arah layar. "Tokonya tuh ada dekat kampus Mas, gampang kok nyarinya," ujar Dhevi sambil menggerakkan tangannya, seolah - olah sedang menunjukkan arah. "Iya, ya udah. Nanti aku ke sana," jawab Arsya santai. "Mas Arsya kapan mau ke situ? Nanti video call sama Adek dong, biar gampang dan nggak salah beli." "Hmm ... kapan

