Rasa Yang Belum Selesai

2314 Kata

Pagi ini Manchester cerah, walaupun udara tetap menggigit. Matahari muncul malu - malu di balik awan tipis, cukup memberi warna pada kota yang seharian kemarin muram. Arsya berjalan ke kampus dengan langkah tenang, jaket tidak terlalu tebal tapi bisa menahan angin itu menutup tubuhnya, ransel hitam tersampir rapi di punggung, dan segelas kopi panas dalam gelas kertas ia genggam dengan tangan kanan. Asap tipis mengepul dari bibir gelas, menghangatkan telapak tangannya. Dari kejauhan, siapa pun akan mengira hidup Arsya baik - baik saja. Gaya Arsya itu bisa dibilang sederhana, tidak ada yang mencolok, tapi jelas bukan murahan. Jaket yang ia kenakan tampak biasa bagi orang awam, padahal harganya setara biaya hidup sebulan mahasiswa beasiswa. Sepatunya bersih, tasnya minimalis, jam tangannya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN