27. Saat Kebenaran Mengetuk Pintu

1008 Kata

Keesokan paginya, Gerald memanggil Lila ke ruangannya. Begitu menerima pesan itu, hati Lila langsung berbunga-bunga. Bayangan wajah Debby, ibu Gerald yang kemaren berkali-kali menyinggung soal perjodohan, kembali terlintas di kepalanya. Lila tersenyum penuh percaya diri. Ia yakin, kunjungan sang ibu mulai memengaruhi Gerald. Mungkin… akhirnya pria itu akan melihatnya bukan sekadar sebagai sekretaris. Dengan langkah ringan dan raut wajah dibuat seprofesional mungkin, Lila masuk ke ruangan Gerald. Namun senyum itu perlahan membeku. Gerald bahkan tidak mempersilahkannya duduk lama-lama. Tatapannya dingin, lurus, tanpa basa-basi. “Aku butuh bantuanmu,” ucap Gerald langsung ke inti. “Tolong atur pertemuan antara aku dan Ririn.” Kata-kata itu seperti tamparan keras. Apa… Ririn lagi?

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN