Gerald kali ini memilih tidak memakai sopir. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan Ririn,sesuatu yang tidak ingin didengar telinga lain. Ia membuka pintu mobil untuk Ririn seperti biasa, sikapnya tenang, terlalu tenang. Ririn sempat meliriknya heran, tapi tetap masuk tanpa bertanya. Mobil melaju meninggalkan area perusahaan, menyisakan suasana hening yang terasa berbeda dari biasanya. Ririn duduk tegak, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Pandangannya lurus ke depan, seolah jalanan jauh lebih menarik daripada pria di sampingnya. Namun Gerald tahu, perempuan itu sedang waspada. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. “Ririn,” panggil Gerald akhirnya, tanpa menoleh. “Hmm?” sahut Ririn singkat. “Kau sadar tidak,” ujar Gerald pelan, “kalau akhir-akhir ini kau semakin lihai mema

