Rani menatap Gerald dengan sorot mata menyala, amarah yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah begitu saja. “Kau tahu apa yang sudah kau lakukan pada anakku?” suaranya meninggi. “Kau tahu dia sudah bersuami?” “Tahu, Bu,” jawab Gerald singkat. Kepalanya sedikit tertunduk. “Saya minta maaf.” Jawaban itu sama sekali tidak meredakan amarah Rani. Justru sebaliknya. “Kapan kalian bertemu? Kapan kalian bisa berhubungan?” desaknya tajam. “Aku tahu betul anakku. Dia bukan perempuan sembarangan. Pasti kau yang menggoda dan merusaknya!” Ucapan itu membuat ruangan terasa semakin pengap. Gerald terdiam. Rahangnya mengeras, napasnya terasa berat. Ia tidak menyangka, setelah semua yang terjadi, Ririn sama sekali tidak menceritakan apa yang sesungguhnya menimpanya. Tidak tentang Aldo. Tidak te

