Kikan masih terus menghindarinya, kentara sekali selama Halim berusaha untuk dekat dengannya. Halim terdiam menatap wajah Kikan yang tengah menyuapi Felora. Lebih pendiam, hanya menyahuti sesekali ucapan putrinya. Meski begitu, Halim sangat bersyukur jika Kikan tidak mengusirnya pergi dari sana. Membiarkan demi Felora yang terlihat semakin membaik. Dari awal kehadiran Halim dalam hidup mereka, bahkan sebelum Kikan mencintai Halim, Kikan tahu jika Halim seperti sesuatu yang membawa dampak baik untuk putrinya. Terutama kesehatannya. Satu ruangan dengan Halim tentu membawa rasa sesak tersendiri untuknya, di sisi lain membawa kebahagiaan untuk putrinya. Kikan menghela napas dalam-dalam, “minum Fel.” Felora minum, matanya terus memandang Halim yang duduk tidak jauh dari mereka. “Dah,

