Kelopak matanya terbuka, ia menarik napas dalam, kemudian Kikan menoleh pada putrinya yang masih tertidur pulas. Kikan bergerak duduk, menatap sekitar dan tidak menemukan keberadaan suaminya, Halim harusnya tidur di ranjang bersama Felora seperti beberapa malam setelah berada di sini. Ia mengusap wajahnya pelan, kemudian mendengar samar-samar suara yang menandakan ada aktivitas Halim dalam kamar mandi, Kikan mengerutkan kening, ia menyisir rambut dengan jemarinya, meraih ikatan rambut, menjepit tengah dengan sebagian rambutnya terurai. Kikan melangkah mendekati kamar mandi, Ia mendengar suara muntah-muntah dari sana, Kikan mengetuk pintunya, Halim tidak lama muncul dengan wajah pucat. “Mas Halim kenapa?” tanya Kikan. Meski sedang marah, ia tetap tidak bisa menahan diri bertanya mendapa

