Beberapa saat Kikan belum datang, Halim memang tengah bersama Felora. Hatinya begitu hancur dan sakit melihat putri manisnya terbaring lemah. Halim meraih tangan kecilnya, “Chocolate girl…” bisik Halim memanggilnya. Tangannya menciumi tangan gadis kecil itu, “ini Ayah,” mendengar nada suaranya sendiri, Halim tahu ia tidak dalam keadaan baik. Suaranya gemetar siap menangis. “Pasti kamu kangen ayah, kan? Ayah pun, miss you so bad…” bisik Halim di dekat putrinya. “Ayah butuh waktu untuk sembuh, juga meyakini eyangmu agar memberi Ayah izin untuk datang ke sini. Menyusul kamu dan Bunda.” Tidak ada jawaban dari kalimatnya selain dari suara pemantau aktivitas jantung Felora. “Ayah melakukan kesalahan besar, yang telah menyakiti kamu dan Bunda. Felo bisa marah pada Ayah, asal tidak mengh

