Waktu itu ia meninggalkan Hamburg bersama Kikan dan Felora menuju Jakarta, tapi sekarang dia tengah di perjalanan menuju Hamburg, bersama Kaflin dan Amira untuk menyusul Kikan dan Felora. Halim baru menyadari sesuatu, perjalanan kembali ke Jakarta bersama Kikan dan putrinya, membuat Halim berani sekaligus menyenangkan. Kini ia duduk sendiri, dengan perasaan hampa yang diselimuti perasaan rindu akan kedua manusia yang begitu berarti setelah meninggalkannya. Perasaan Halim terus gelisah setelah Ayah memberitahu tanggal keberangkatan mereka ke Hamburg. Hatinya merasa tak nyaman, terus teringat Felora dan Kikan. Hanya doa yang bisa ia terus berikan agar keduanya baik-baik saja, sehat. Gelisahnya karena Halim kehilangan komunikasi mereka, entah ia harus mencarinya ke mana? Bila ia berhasil me

