“Nduk, dimakan dulu. Mamamu nungguin anak-anak di rumah sama Tari, jadi kamu sama Papa dulu sementara,” ucap ayahnya setelah mereka solat bersama. Pak Rohmat sengaja tak terlalu lama berdoa, agar putrinya tak kembali menangis. “Mau Papa suapin?” tawarnya. Ayu menggeleng. “Ayu bisa kok. Maaf ya, Pa. Ayu beneran gak tahu kenapa bisa terjadi,” suara Ayu bergetar. Air matanya kembali luruh. Ia sungguh merasa bersalah pada orang tuanya. “Sudah. Berhenti minta maaf. Yang penting kamu masih ada sama kami sekarang. Allah masih sayang sama kita. Makan dulu ya, biar cepet pulih.” Ayu menyeka air matanya. Buliran bening itu seakan mengalir begitu saja membasahi pipinya. “Papa makan apa? Ayu pesenin ya?” “Gak usah. Bentar lagi Sugeng juga sampai antar barang kamu sama makanan dari Mama.” “Ayu

