Sejak pagi, Azka sudah berpakaian rapi. Ia sudah tak sabar untuk pergi ke rumah sakit menjenguk ibunya yang dirawat di sana. Sepagian, ia mengikuti neneknya yang sibuk menyiapkan sarapan. “Azka sayang, duduk dulu saja ya. Eyang siapin sarapan dulu sebelum kita pergi. Adiknya sudah pada mandi semua belum?” Azka menggeleng. “Minta tolong disuruh mandi dulu adiknya. Biar setelah itu sarapan terus kita langsung berangkat.” “Tegar ditinggal lagi?” “Iya. Tegar masih terlalu kecil.” “Tapi nanti nangis lagi cari Mama kayak semalem, Yang.” Meski adik bungsunya belum bisa bicara, tapi Azka tahu Tegar mencari ibu mereka dari tangisnya yang tak bisa dibujuk orang lain. Bu Halimah menghela napas. “Adiknya disuruh pada mandi dulu, terus sarapan.” Azka menurut. Ia menjadi kakak yang sigap di usi

