Ali terdiam sejak ia pulang dari rumah sakit. Bayangan Tegar dan Haidar yang paling banyak menyita pikirannya. Anak bungsunya dengan Ayu bahkan tak mengenalinya sebagai ayahnya. Dia dengan begitu bangga menyebut laki-laki lain sebagai papa, seakan hubungan mereka memang sedekat itu. “Kenapa lagi? Ummi perhatikan kamu lebih banyak diam dan melamun sejak kembali dari rumah sakit.” Ali menggeleng. “Dokter bilang apa tadi?” “Haidar mungkin butuh terapi.” “Dicoba saja apa kata dokter. Mereka pasti lebih tahu. Yang penting kamu sama Wulan jangan putus asa. Terapi di kota?” “Enggak. Di sini saja yang dekat.” “Ali, Haidar juga tak pernah minta untuk lahir dengan kondisi begitu. Dia gak salah.” Ali mengangguk. Haidar memang tak salah. Dia dan Wulan yang bersalah. Ada dosa masa lalu yang ia

