Ayu mengikat tali sepatunya dengan enggan. Keempat anaknya terlihat begitu bersemangat pagi itu, bahkan Tegar yang selama ini paling malas beraktivitas fisik. Mereka akan latihan lari pagi di stadion olahraga. “Harus kencang Bu Dokter Cantik,” Elang berjongkong di depan istrinya yang duduk di kursi teras, kemudian mengikat ulang tali sepatu Ayu. “Mulai deh bucinnya,” sorak Rayhan yang melihat keduanya. “Kita mau olahraga lho, Pa, bukan malah ngajarin pacaran,” kata Azka. Ayu tersenyum lebar, sementara Elang terkekeh sembari bangkit. Elang melemparkan kunci mobilnya pada Azka yang ditangkapnya dengan sigap. “Pa?” Azka menatap ayahnya penuh tanda tanya. Elang mengangguk sembari berjalan untuk membukakan pintu gerbang. “Belajar ngeluarin sekalian, Papa yang kasih aba-aba.” “Papa?” Ayu

