Adeeva terisak ketika diberi tahu tetangganya bahwa ayahnya masuk rumah sakit dan ibunya sedang menyusul ke sana. Ia bergegas menyusul ibunya setelah berpamitan pada tetangga tempat Haidar dititipkan sementara. Tak mudah bagi Wulan untuk meninggalkan putranya pada orang lain. Meski Haidar relatif bisa tenang dan mudah diberi pengertian, tapi selalu ada kekhawatiran menitipkannya pada orang lain. Tapi ia tak punya pilihan lain. Ali baru saja dibawa ke ruang perawatan saat putrinya sampai masih dengan seragam sekolahnya. Ia ditempatkan di ruangan kelas dua yang berisikan empat orang. “Ummi, Abi kenapa?” Perawat baru saja keluar, dan Wulan baru saja duduk di kursi. “Napasnya sesak tadi di pabrik, jadi dibawa ke sini.” “Tidak apa,” sahut Ali pelan, dengan selang oksigen terpasang di luban

