Kepala Ali berdenyut. Ia tak tahu lagi harus bicara apa. Wulan masih terisak di ujung sana menceritakan bagaimana ia tadi di rumah sakit membawa Haidar menemui dokter anak. “Mas, aku mohon, ijinkan aku menemui Mbak Ayu untuk meminta maaf dan ampunan,” isak Wulan di ujung telepon. Ali menghela napas berat. Rupanya kehidupan masih akan menghukumnya melalui anaknya. Atau mungkin itu kesempatan untuknya membersihkan diri? Empat anaknya yang lain, bahkan sudah lama tak ia nafkahi. Bukan Ali tak mau. Tapi ia tak mampu menyamai apa yang diberikan oleh ayah tiri mereka. Bahkan untuk menghidupi keluarganya yang sekarang saja, Wulan masih perlu membantunya dengan berjualan. Ali sebenarnya sudah lama memikirkan keinginan Wulan. Hanya saja harga dirinya terlampau tinggi. Ia tak sanggup mengakui ke

