Ayu hanya tersenyum saat anaknya mengeluhkan tentang sikap ayah mereka. Normalnya, ia akan memberi pengertian pada anak-anaknya tentang ayah mereka yang terpaksa harus bekerja jauh dari rumah dan keluarga. Tapi sekarang rasanya tidak perlu lagi. Rasanya Ayu sudah mantap melepaskan diri dari ikatan yang sudah tak sejalan lagi. Berulang kali ia berusaha memikirkan semuanya kembali dan tak terbersit secuil pun keinginan untuk bertahan setelah dikhianati. Satu-satunya pertimbangan jika harus bertahan adalah anak-anaknya. Tapi sepertinya, mereka pun sudah terbiasa hidup tanpa peran maksimal ayahnya. “Nanti Mama atau Eyang yang jemput Azka?” “Mama usakan bisa jemput Azka, tapi kalau Mama ada pekerjaan mendadak, nanti minta tolong Eyang.” Azka mengangguk. Dia mencium tangan dan pipi ibunya.

