Pagi itu, Sherry berdiri di depan sebuah rumah tua di ujung jalan Oak Avenue. Rumah itu tidak besar, dinding bata merah dengan cat yang mulai pudar di beberapa tempat, teras kayu kecil dengan dua anak tangga yang berderit ketika diinjak, dan jendela-jendela kayu dengan kaca tebal yang masih utuh meskipun terlihat sudah berusia puluhan tahun. Thelma, wanita paruh baya yang ia temui semalam di motel, berdiri di sampingnya. Rambut keritingnya yang mulai beruban disanggul longgar di belakang kepala, dan ia mengenakan jaket denim biru lusuh di atas gaun bermotif bunga-bunga kecil. Wajahnya keriput, tapi matanya memancarkan kehangatan, seperti mata seseorang yang telah melihat banyak hal dalam hidupnya dan memilih untuk tetap tersenyum. "Rumah ini sudah lama tidak dihuni," kata Thelma, matanya

