Raymond meletakkan ponselnya di atas meja kaca dengan gerakan yang tidak lembut. Layar ponsel itu masih menyala sebentar, sebelum akhirnya gelap. Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menatap langit-langit ruangan yang tinggi, lampu-lampu tersembunyi yang menyebarkan cahaya putih dingin. Dia berada di ruang kerjanya di lantai lima belas gedung pusat bisnis kota, ruangan yang biasanya menjadi tempat ia mencari ketenangan. Tapi sore ini, tembok-tembok kaca yang menghadap ke cakrawala kota justru membuatnya merasa terperangkap. Kedua tangannya naik, mengusap wajahnya kasar, dari dahi ke dagu, sekali, dua kali, seperti berusaha menggosok sesuatu yang tidak terlihat. Ia berdiri. Roda di kaki kursinya berputar pelan, lalu berhenti. Langkahnya membawanya ke jendela kaca dari lantai hingga lang

