Kalimat "Sangkar Emas" itu menggantung di udara selama dua detik yang terasa seperti dua abad. Ratna Mavendra di kursi VVIP sudah mencengkeram lembut kain jariknya, siap berdiri untuk menghentikan menantunya yang ia duga akan mengacau. Jevas di samping Aru menahan napas, otot rahangnya menegang, bersiap merebut mikrofon jika Aru melontarkan kalimat pemberontakan. Namun, Arunaya tersenyum. Senyum itu bukan senyum sinis. Itu adalah senyum yang tenang, teduh, dan penuh wibawa. Senyum seorang ibu negara. "Sangkar emas..." ulang Aru lembut, matanya menyapu hadirin dengan tatapan yang mengayomi. "...seringkali disalah artikan sebagai pengekangan. Namun bagi saya, dalam filosofi keluarga Mavendra, emas melambangkan kemurnian standar dan nilai luhur yang harus dijaga." Bahu Ratna turun perlah

