"Lima menit.” Broto memecah keheningan di pendopo belakang yang hanya diterangi oleh lampu temaram kekuningan. Pria tua itu menatap cucunya penuh pertanyaan. Bidak-bidak catur di atas meja pualam di antara mereka sudah lama dikemasi, menyisakan permukaan kosong yang memantulkan raut wajah Abimana yang tegang dan kelelahan. Broto menyandarkan punggungnya pada kursi jati, setelah membiarkan waktu berharga berlalu selama lima menit tanpa ada satu pun dari mereka yang bersuara. "Sekarang katakan," tuntut Broto, nadanya mengalun tenang namun membawa otoritas seorang patriark yang tak bisa dibantah. "Apa yang mengganggu pikiranmu? Kau tidak akan kemari, duduk membisu seperti patung batu, kalau pikiranmu tidak buntu." Broto menyipitkan mata tuanya, memindai postur kaku cucunya. Pria paruh bay

