Keheningan yang membekukan darah itu hanya berlangsung selama beberapa detik, namun bagi Arunaya, rasanya seperti dikurung dalam ruang hampa udara selama berjam-jam. Tatapan Profesor Broto Menembus langsung ke dasar jiwanya, menguliti sisa-sisa pertahanan sosialita yang baru saja ia bangun. Namun, tepat ketika Aru mengira pria tua itu akan menjatuhkan vonis penghinaan, raut wajah sang patriark berubah seratus delapan puluh derajat. Garis-garis keras di wajah Profesor Wiryawan mengendur. Sepasang mata legam yang sedingin baja itu melunak, dan bibir keriputnya menarik sebuah senyuman. Bukan senyuman sinis atau merendahkan, melainkan sebuah senyuman hangat yang memancarkan kebijaksanaan seorang kakek. "Wajar," ucap Tuan Broto, suaranya yang serak kini terdengar menenangkan. Pria tua itu t

