Layar ponsel itu menggelap, mengakhiri pendaran cahayanya di atas meja kayu. Aru menatap layar hitam itu selama dua detik penuh. Pesan provokasi dari Jevas, yang menantangnya untuk segera pulang dan melihat kejutan dari butik Cartier, sama sekali tidak memancing emosinya. Alih-alih merasa terintimidasi, sudut bibir Aru justru tertarik membentuk seringai tipis yang luar biasa dingin. Suaminya sedang mencoba bermain di wilayah kendali, mencoba menunjukkan bahwa ia kebal terhadap semua kehancuran ini. Tanpa repot-repot mengetik balasan, Aru mengambil ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam tas Hermès barunya. Bunyi klik dari pengunci tas terdengar seperti sebuah titik akhir dari kepeduliannya pada ego Jevas Mavendra. Di seberang meja, Abimana Trisatya memperhatikan setiap gerak-gerik

