Di atas meja mahoni panjang yang dipenuhi hidangan mewah, Arunaya duduk bak patung pualam yang kehilangan jiwanya. Tangan kanannya bergerak mekanis, menyendok sup krim jamur truffle, mengangkatnya ke udara, lalu membiarkannya tumpah kembali ke dalam mangkuk tanpa sedikit pun menyentuh bibirnya. Ia melakukan gerakan itu berulang kali, dengan tatapan mata yang kosong menembus meja makan. Di seberangnya, Jevas duduk dengan postur tegap. Pria itu baru saja pulih dari kolapsnya, mengenakan kemeja santai berwarna navy yang digulung hingga siku. Sejak sepuluh menit yang lalu, Jevas sudah meletakkan alat makannya. Mata hitam sang CEO tak sedetik pun lepas mengamati istrinya. Ia melihat kekosongan itu. Ia melihat gerakan tangan Aru yang seolah terputus dari kesadarannya. Namun, Jevas tidak bertan

